
Gunung panggringan terletak di selatan kota Ponorogo Propinsi Jawa Timur, tepatnya di desa Padas Kecamatan Bungkal. Gunung yang mempunyai ketinggian 110 meter dari permukaan air laut. Dulunya kelihatan rindang tapi sekarang sudah tampak gersang dikarenakan penebangan liar oleh penduduk sekitar. Tapi saat ini penghijauan mulai di galakkan walaupun belum tampak hasilnya.
Jaman dahulu sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, sering saya belajar di salah satu lerengnya (tempat tinggal saya berdekatan dengan gunung ini, tepatnya di sebelah barat).
Ada beberapa tempat yang menarik:
Banteng Mati
Banteng mati merupakan tempat pertama kali kita jumpai sewaktu mau mendaki. Sebuah batu yang konon ceritanya jelmaan sebuah banteng yang terbunuh di tempat ini. Banyak cerita mistis yang terjadi, belum lama ini warga sekitar mendengar alunan musik yang ditimbulkan dari sini. Dahulu disekitar batu banyak ditumbuhi pepohonan rindang, tapi sekarang sudah gersang.
Watu Kontol
Namanya memang agak fulgar, tapi memang ini kenyataannya. Kenapa di sebut begitu soalnya di tempat ini ada 2 buah batu yang sejajar dan membentuk kontol (alat kelamin pria-red )
Sekitar tahun 60-an ada orang pintar yang mengatakan bahwa di tempat ini ada barang berharga yang berupa tombak dan keris.
Pada suatu hari dengan bantuan warga sekitar batu tersebut di pecahkan dan ternyata benar, ada 2 senjata yang tersebut diatas berada di dalam batu tersebut.

Tampak gambar bekas tempat dimana salah satu senjata itu di temukan. Dan kabarnya, masih ada 1 lagi barang yang terdapat di dalam batu tersebut, yang sampai saat ini masih belum digali. Posisi barang tersebut di bawah bongkahan batu.
WayanganSebuah batu datar yang besar.Sering terdengar alunan gamelan pengiring wayang.
Watu BokoWatu boko ( batu boko ) yang di gambarkan sebuah tempat peristirahatan. Batu tersebut datar dan membentuk seperti tempat tidur. Dibatu tersebut ada ornamen telapak tangan.
Dan masih banyak lagi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi di gunung ini. Dari atas terlihat jelas wilayah Kabupaten Ponorogo.
Tumpak
Dikatakan tumpak karena tempat ini tepat di puncak gunung. Di tempat ini tumbuh 1 pohon yang sudah berumur tua tapi masih kelihatan kecil. Bisa diibaratkan pohon tersebut tidak tumbuh besar.

Dibawah pohon tersebut sering digunakan untuk tempat nyadran ( ritual yang dilakukan sebelum orang yang bersangkutan mengadakan suatu acara, semisal resepsi pernikahan-red). Terlihat pada gambar masih ada sisa pembakaran dupa.